"MELAWAN CUMLAUDE DENGAN KARYA”
Oleh: Muh Wahyu Hidayat
Gusman Azis, Lahir di Pundambu, tepat tanggal 22 bulan Juni tahun 1996, anak dari pasangan bapak Aziz dan ibu Nurma, berasal dari Desa Peburru’, Sekolah Dasar ia tempuh di SDN 041 Pullandu, kemudian ia lanjutkan di SMP 2 Campalagian, setelahnya duduk di bangku SMK Campalagian merupakan jenjang pendidikan seragamnya,
Tahun 2014 ia lulus, lantas mencoba mengarungi bahtera pendidikan di luar daerah, mendaftar di Universitas Negeri Makassar (UNM) yang pada akhirnya diterima di jurusan Sastra Indonesia.
Dengan latar belakang jurusan otomotif saat di SMK, ia sedikit pesimis sebab menurutnya tidak ada hubungan dengan jurusan yang ia tempuh pada saat kuliah, tapi itu tidak lantas membuatnya patah semangat dan memilih untuk pindah jurusan, ia mencari jati diri akan itu, mencoba menjiwai apa yang ia jalani sekarang yakni “Sastra”.
Semester pertengahan di UNM, merupakan awal dirinya dalam bergumul dan tertarik dengan sastra itu sendiri, namun takdir berkata lain, ketika ia pindah di Universitas Al Asyariah Mandar di semester 5, ia sedikit kecewa dikala dalam konfersinya tersebut, proses 2 tahun di UNM tidak bisa ia lanjutkan, memulai semester baru merupakan sebuah solusi akan itu, ia kembali menjadi mahasiswa baru namun di Kampus Biru.
Kumis yang menjadi ciri khas, membuat orang mudah untuk mengenal wajahnya, perawakan ramah juga sopan itu yang terlihat dari pribadi Gusman Azis.
Tahun 2020 ini, merupakan awal yang cerah bagi dirinya secara pribadi, setelah 4 buku yang telah ia terbitkan, Judul Proposal-nya pun telah di ACC.
Ia berucap bahwa dalam penempuhan proses dalam menyusur rimba Sastra itu sendiri, lebih ia dalami di Unasman, HIMA PBI merupakan Organisasi Intra Kampus, sebagai batu asahan bagi dirinya dalam mempelajari dan menghayati arti dalam sebuah puisi.
Ada empat buku Puisi yang ia telah di terbitkan, Syair Pengembara Cinta, Ada Puisi Dalam Secangkir Kopi dan Sajak Langit merupakan tiga buku analekta kumpulan puisi-puisi penyair se-Indonesia dan ia termasuk didalamnya. Kemudian, satu lagi adalah hasil karya yang ia torehkan sendiri, berjudul “Ketika Cinta Bersabda”.
Setiap orang memiliki apa yang ia kagumi, seorang Motivator dalam kehidupan yang memompa semangat dalam mengarungi lakon kehidupan, begitu pula dengannya, ia mengidolakan Prof.Dr.Sapardi Djoko Darmono yang merupakan pujangga tersohor Indonesia, dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan.
Gusman sendiri memiliki sebuah cita-cita dalam perkuliahan, yakni Cumlaude, tapi dengan memperhatikan nilai yang tidak cukup akan posisi itu, ia buat tekad baru.
“Sebelum saya Wisuda nanti, saya akan menerbitkan 1 buku lagi, dan akan me-launching-nya pas Wisuda nanti”. Tekadnya.
Jarang ada Mahasiswa yang berprinsip seperti ini, kebanyakan kadang hanya berpacu akan toga wisuda, “Pokoknya saya mesti lulus cepat” itu biasa yang terlontar, ini merupakan bukan proses dalam kuliah, namun Gusman sendiri memilih jalan berbeda, ketika ia memang tidak mampu mendapat title Cumlaude, ada karya yang ia bisa torehkan. Inspiratif.
Gusman sedikit bercerita, bahwa dalam perjalanan penulisan puisi yang ia jalani selama ini, ada masa-masa penolakan yang ia kerap dapat, pernah ia mengirim sebuah puisi di Radar Sulbar dan di tolak beberapa kali akan itu bahkan sampai sekarang tidak terpublish, kemudian sebuah Platform Puisi bernama “Wiki Puisi” terdapat pula penolakan, hingga sampai di “Puisi Siaran” 2 puisinya diangkat, meskipun ada 19 yang di tolak.
Ia juga menyampaikan bahwa siapapun bisa menulis, baik itu berupa karya ilmiah maupun karya sastra, tapi itu perlu modal, perbanyak baca buku dan membaca keadaan/lingkungan, dan jangan pernah bosan apalagi patah semangat jika dalam tulisan yang dikirim itu tidak diterima.
“Langsung menulis, melalui catatan, atau memo hape, jangan ditunda-tunda” Lanjutnya memberi tips ketika mendapat sebuah Ide tulisan.
Weimen apa tongandi kanda
BalasHapusMe'guru tau
Hapus